Rabu, 05 Oktober 2011

The Way You Remember Me,chapter 9


Tangisan Scarlet mengisi seluruh ruangan itu.Ia ingin sekali mendekati ibunya dan memberikan salam terakhir unuk ibunya tapi Skandar mencegahnya.Skandar menahan Scarlet dalam pelukannya.
“Aku ingin menemui Mom..aku yakin mereka salah.Mom masih ada,mom tidak tega membiarkanku sendirian ,Mom tidak mungkin meninggalkanku”Scarlet berusaha melepaskan Skandar.Menggerakan tubuhnya dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya.
“Scarlet .. kau harus menerimanya”Skandar mengeratkan pelukannya,satu tangannya mengelus kepala Scarlet.
Scarlet membenamkan wajahnya didada Skandar.Ia terus menangis terisak,ia belum bisa menerima semuanya. Tidak,jangan sekarang!
“Mom tidak mungkin membiarkanku sendirian”Lirih Scarlet.


***********


Rintik-rintik hujan itu mulai turun,seakaan langit ikut menangis melepas kepergian salah satu penghuni bumi.
Tidak sedikitpun Scarlet merasakan ritikan hujan yang perlahan membuat pola-pola kecil dibajunya.
Ia tidak peduli dengan apa yang terjadi sekarang,ia terlalu sibuk memandangi papan nama yang menuliskan nama ibunya.Satu tangannya menyentuh papan nama itu dan satunya berada diatas tumpukan tanah.
Beberapa saat yang lalu,ia baru saja melihat ibunya yang ada dalam peti menyatu dengan tanah.

Payung hitam itu menghalangi Scarlet dari rintikan hujan yang mulai berubah semakin deras.
Scarlet menengadah menatap payung yang kini menaunginya.Skandar.
“Bukankah kau sudah berjanji pada Mommu”Skandar menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan Scarlet.
Tidak ada jawaban,Scarlet tetap memandang kosong papan nama itu.Kristal bening itu mengalir perlahan menuruni pipi Scarlet.
“Hentikan tangismu.Biarkan hujan menganggantikanmu menangis”Ucap Skandar menggerakan ibu jarinya mengahpus aliran air mata yang ada diwajah Scarlet.
Scarlet menggerakkan kepalanya kearah Skandar.
“Kau berjanji demi kebahagian mommu ..Jika kau megingkarinya bukankah sama saja kau membuatnya sedih sekarang”Ucap Skandar,menatap lembut Scarlet.
Scarlet terdiam,benaknya kembali memutarkan kejadian dirumah sakit kemarin,saat ia berjanji untuk kebahagian ibunya.
“Kau boleh menagis,tapi jangan keluarkan air matamu.Biarkan hujan yang menjadi setiap tetes air matamu”
Scarlet menatap pria didepannya.Ia berterimakasih pada tuhan yang telah mempertemukannya dengan pria ini.
Pria yang sejauh ini selalu hadir membantunya,meluangkan waktunya untuk mengunjungi ibunya,merelakkan bahunya sebagai sandarannya saat menangis.
“Aku ingin pergi”Ucap Scarlet berdiri.
“Kemana?”


******


Hujan mereda dan menyisakan sisa-sisa air menghiasi beberapa sudut St.James Park dan dilangit pelangi menghiasi langit kota London.
Dibangku panjang kayu itu keduanya terduduk,payung hitam itu tidak lagi berguna.Sekarang,keduanya hanya ingin menikmati pemandangan langit kota London setelah hujan membasuhnya.
Keduanya terdiam.Sang pria terus memperhatikkan gadis disampingnya yang terus memandangi langit.
“Indah..”Gadis itu bergumam menatap langit.
“Apa yang indah?”Tanya pria itu.
“Pelangi”
Pria itu memutar kepalanya kedapan lalu mentap langit jingga yang dihiasi pelangi.
Kembali hening.Keduanya sibuk mengamtati lukisan alam didepannya.
“Kau tahu?”Gadis itu kembali membuka suara.
“Apa?”Tanya Pria itu tertarik.
“Mom suka pelangi”Gadis itu menoleh sekilas kepria disampingnya,hanya sekilas setelah itu ia kembali memandangi pelangi itu.
“Mom bilang aku dan Dad adalah pelangi dalam hidupnya”Gadis itu menghembuskan nafas panjang saat mengenang masa kecilnya.
“Dan begitupun mereka.Mom dan Dad adalah pelangi dalam hidupku.Tapi aku kehilangan semua warna dalam pelangiku sekarang”Baru saa gadis itu menunjukan setitik tanda untuk senyumnya tapi ingatannya akan kehilangan mendahului senyum itu.
“Masihkan tersisa satu ruang untuk satu warna baru dalam pelangimu?”Tanya Pria itu tatapannya masih tertuju kelangit.Gadis itu menolehkan wajahnya.
“Terlalu banyak ruang yang hilang dan banyak ruang yang perlu terisi”Ucap gadis itu.
Pria itu menoleh.Kini wajah keduanya saling berhadapan.
“Maka biarkan aku mengisi seluruh ruang yang hilang itu dengan satu sentuhan warnaku”Ucap pria itu.
Gadis itu tercengang,tapi setelah tersedar ia segera menggeleng.”Skandar,sebenarnya apa yang kau bicarakan?”
“Biarkan aku menjadi pelangimu”Tegas pria itu memperjelas.
Gadis itu hanya bisa membuka sedikit bibirnya sebagai tanda keterkejutannya.
Satu kecupan mendarat dikening gadis itu.Membuatnya kembali membeku,tidak tahu harus berkata atau melakukan apa.


Hujan bisa saja memudarkan pelangi tapi dilain waktu pelangi itu akan kembali hadir.Kembali menghiasi langit dengan bias warna-warna indahnya.

******



Bisakah satu warna membiaskan berjuta warna?
Bisakah ia menjadi pelangi baru dalam hidupku?
Entahlah ,yang jelas aku akan sellau menunggu bias warnanya tertoreh dalam kertas hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar