Keadaannya memburuk,kini beberapa selang dan kabel menghubungkan tubuh Louise dengan semua alat-alat medis yang ada disamping tempat tidur.
Perlahan Skandar berjalan mendekati tempat tidur itu.Louise berusaha menarik bibirnya membuat segaris senyum tipis menyambut pria tampan yang kini terduduk disampingnya.
“Skandar “Panggil Louise lemah.
“Ya ..aku disini”Skandar mendekatkan tubuhnya.
“Kau adalah ..”Jeda,Louise menarik nafasnya terlebih dahulu.
“Kau adalah satu-satunya pria yang dapat mengembalikkan senyum putriku”ucap Louise susah payah,beberapa selang yang ada menyulitkannya.
“Aku senang melihat Scarlet tersenyum”Jawab Skandar tersenyum.Louise kembali menarik senyumnya.
Hening ..hanya suara dari beberapa alat medis yang berbunyi menimbulkan rasa cemas yang mendalam untuk Skandar.
“Skandar,maukah kau berjanji padaku?”Tanya Louise.
Tiba-tiba saja pertanyaan yang dilontarkan Scarlet untuk diri Skandar menyeruak.
“Ya,setelah kau bersedia menjawab satu pertanyaanku”Jawab Skandar,memperhatikan adakah sedikit perubahan diwajah wanita ini setelah mendengar jawabannya.
Louise mengangguk.Skandar menarik nafas panjang.
“Apa permohonanmu tadi?”Tanya Skandar.
Wajah Louise tetap tenang tidak sedikitpun ia terkejut dengan pertanyaan Skandar.
“Aku ingin mendapatkan yang terbaik untuk diriku dan Scarlet”
“Jika yang terbaik untukmu bukanlah yang terbaik untuk Scarlet?”Tanya Skandar lagi.
“Aku kira kau hanya memintaku menjawab satu pertanyaanmu”Louise kembali menarik segaris senyum.
Skandar menunduk dan tertawa kecil.
“Baiklah,hanya satu.Bagaimana dengan janji itu?”Tanya Skandar menngingatkan.
“Jika nanti aku meninggalkan Scarlet..”Louise menghentikan ucapannya.Skandar kembali menegang,dia bisa membayangkan apa yang terjadi pada Scarlet jika itu benar terjadi.
“Berjanjilah padaku kau akan tetap membuatnya tersenyum”Louise menatap Skandar dengan tatapan meminta tanpa sedikitpun mengurangi wibawanya sebagai seorang ibu.
Tanpa perlu Louise memintanya berjanji,Skandar sudah melakukannya.”Aku berjanji”
“Terimakasih Skandar,aku selalu mempercayaimu”
Skandar mengangguk dengan seulas senyum simpul diwajahnya.
“Bisakah kau memanggil Scarlet menemuiku?”Tanya Louise meminta.
“Tentu saja”Skandar berdiri dari kursinya dan beranjak meninggalkan Louise.
***********
Dan disinilah Scarlet,berdiri mematung didepan ruang rawat ibunya.
“Scarlet”Bisik Skandar yang berdiri dibelakangnya.
“Apa Mom seburuk itu?”Scarlet menoleh,matanya menyorotkan keputus asaan.
“Mommu ingin menemuimu”Skandar berdalih,ia tidak mampu menjawab prtanyaan Scarlet.
Satu tarikan nafas,dan tangan Scarlet sudah mencengkram pegangan besi pintu ruangan rawat itu.
Seperti yang diduganya,keadaan ibunya tidaklah lebih baik dari hari sebelumnya.
“Mom..”Lirih Scarlet saat melihat berbagai selang yang terpasang ditubuh wanita yang dicintainya.
Scarelet menggerakkan kakinya mendekat.Demi apapun kakinya sekarang terasa begitu lemas jika bukan karena ibunya,ia tidak akan mampu menggerakkan kedua kakinya.
Scarlet teruduk disamping tempat tidur Louise dengan kedua tangannya sudah menggengam salah satu tangan Louise.
“Mom ..”Suara Scarlet bergemetar.Ia tidak bisa melihat ibunya seperti ini.
“Scarlet”Louise melepskan genggaman putrinya.
Louise Memejamkan kedua matanya,dan tangannya menjelajahi wajah Scarlet.Meraba setiap bagian wajah Scarlet.
Tubuh Scarlet mulai berguncang,ia berjanji untuk tidak menangis didepan ibunya.
Tangan Loiise berhenti dipipi kanan Scarlet.
“Scarlet..”Panggil wanita itu,terlalu lemah sehingga terdengar seperti bisikkan yang menyesakkan rongga dada saat mendengarnya.
“Y ..ya.”Scarlet menggigit bibirnya.Tidak boleh,ia tidak boleh menangis.Apapun alasannya,tidak didepan ibunya.
“Mom.. men..cintaimu”Ucap Louise sedikit tersendat.
“Aku dan Dad akan selalu mencintaimu Mom”Balas Scarlet memaksakan senyumnya.
“Apa kau ingin melihat Mom bahagia?”Tanya Louise mengelus lembut pipi Scarlet.
“Tentu saja”
“Jika Mom bahagia bila Mom pergi menemui Dad?”
Sesuatu menghantam pertahannanya,air mata bergulir sempurna menuruni pipi Scarlet.
“Kau menangis?”
Scarlet menggeleng,air matanya sudah bergulir melewati bibirnya.
“Kau ingin Mom bahagia?”
Scarlet terdiam.Suara-suara monoton alat-alat medis disekitarnya menimblukan ketakutan tersendiri bagi Scarlet.
“Mom ..ak-“
“Jawab saja..”Sela Louise.
Scarlet meengangguk lemah,saat itu matanya mulai mengabur,tangisan lainnya bersiap pecah dari mata indahnya.Apapun permintaan ibunya,ia tahu itu akan meremukan hatinya.
“Berjanjilah padaku..sedikitpu kau tidak mengeluarkan air matamu ketika aku pergi”Louise mengahapus air mata yang perlahan turun dari pipi Scarlet.
“ Mom..kau tidak akan pergi kemanapun”Scarlet menggenggam tangan ibunya yang masih berada dipipinya.Scarlet terus mengucapkan kalimat itu dengan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
“Tentu Mom akan pergi,maka dari itu berjanjilah ..”Suarannya terdengar bergitu lemah.
Tubuh Scarlet kembali berguncang,tidak..ia terus meykinkan dirinya.Ibunya tidak akan pergi kemanapun.Ibunya akan selalu bersamanya,ia tidak bisa memenuhi janji ibunya.
“Mom …percayalah.Kau tidak akan pergi.Kau akan.. selalu bersamaku.. Mom”Suara Scarlet tersendat-sendat.Genggaman tangan Scarlet melemah.
Tiba-tiba saja Louise memandang Scarlet dengan wajahnya yang kini terlihat jauh lebih damai.
Seulas senyum diberikannya untuk Scarlet.”Berjanjilah padaku ..”
Demi kebahagianmu Mom,Scarlet menyerah,ia mengangguk.
“Mom mencintaimu”
Mata Louise terpejam,dan tangan hangat yang sedari tadi mendiami pipi Scarlet berangsur jatuh diiringi bunyi panjang dan monoton dari layar monitor yang kini menunjukkan garis lurus.Garis lurus panjan serta suara monoton,keduanya,secara bersama-sema menebarkan kedukaan dalam ruangan itu.
Sebelum ia menyadari apa yang sebenarnya terjadi,pintu ruang rawat itu terbuka.Beberapa dokter dan perawat yang tak asing baginya menerobos masuk. Skandar mendekapnya dan membawanya menjauh dari Louise yang kini terbaring tak bergerak.
Dari tempatnya berdiri sekarang,Scarlet mentap keramian para ahli medis yang mengelilingi ibunya.Matanya tidak berhenti mengeluarkan air mata.Skandar menggenggam tangannya,sangat erat.
Kerumunan itu perlahan menjauhi Louise,salah seorang diantaranya masih berdiri disana dan meyembunyikan tubuh ibunya dibalik kain putih itu.
“Maafkan kami”Seorang dokter menghentak bahu Scarlet,membuatnya tersadar wanita yang paling dicintainya baru saja meninggalkannya.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar