Akan ada banyak beribu bintang yang dapat kita petik dari atas sana tapi tidak akan ada satu tangga manapun yang akan bisa membantu kita meraih bintang-bintang tersebut. Kalau ada yang bisa aku lakukan untuk merubah tangga tersebut apapun akan aku lakukan. Tapi aku bukan tuhan yang mampu menembus segala perbatasan. Kalau aku bisa memutar waktu apapun akan aku berikan sebagai persembahanku untuk yang ku pinta. Tidak banyak yang aku inginkan hanya sekilas memori yang ku ingin miliki kembali. Bukan sebuah memori romantis dari kisah percintaan di masa lalu. Hanya memori akan masa kecil yang kini kurindukan kehadiranya. Bukan memori itu, tapi mereka. Mereka yang memerankan memori itu, mereka yang menuliskan cerita di dalam memori ini dan mereka juga yang mewujudkan naskah itu menjadi sebuah visual yang dapat dilihat. Aku besar dan hidup merasakan hal yang baru bersama mereka. Teringat setiap janjian di setiap malam minggu itu. Bukan, kita bukan seperti kebanyakan anak yang beranjak dewasa pada waktu itu, yang menghabiskan waktunya untuk seorang lelaki yang baru mereka kenal, dengan ckisah cinta dimasa kecil mereka. Ini adalah kita, kita yang setiap malam minggu menghabiskan waktu untuk bermain galasin, badminton, kalau aku tidak salah ada sebuah permainan, apa itu? iya, masuk kotak. Kalu harus mengingat itu semua yang aku ingat hanyalah kita yang belum mempunyai satu hal pun untuk dikhawatirkan. Kalau kita mau kita bisa berlari kemana pun tanpa harus takut akan ada yang menghalangi. Kita juga bisa tertidur di tengah lapangan di malam hari tanpa takut bahwa pagi akan segera datang. Kita juga tidak perlu takut untuk menghadapi apa yang akan datang disekolah pagi itu. Karena kita hidup untuk masa, waktu, dan detik itu. Kita tidak perlu memikirkan tempat seperti apa yang tuhan sediakan untuk kita dimasa depan nanti. Karena bukan itu waktunya, akan ada saatnya saat semua hal itu adalah menjadi prioritas untuk kita khawatirkan.
Dan inilah saatnya, saat dimana kita sudah tidak saling mengenal satu sama lain. Bukan karena kita sudah lama tidak saling bertemu, tapi karena kita memilih untuk tidak saling mengenal. Kali ini kita tidak berjalan sendiri sebagai mana dulu Tuhan menjadikan kita bahagia. Kali ini kita berjalan sendiri-sendiri dengan jalan sunyi yang tuhan berikan. Tidak, kita tidak tinggal beribu-ribu kilometer dengan jarak tempuh perjalanan yang mungkin hampir berjam-jam. Kita sebuah tetangga dengan jarak rumah yang bahkan sekolah kita pun jauh lebih jauh dibanding jarak rumah kita. Lapangan itu, tempat kita biasanya berkumpul masih sama seperti dahulu hanya saja mereka harus mengecatnya kembali karena warna-warnya yang telah memudar. Setiap rumah itupun masih sama seperti tahunan yang lalu. Rumah kami....tidak ada yang berubah dari letaknya. Tetapi entah mengapa kaki ini sekarang begitu berat untuk melangkah kepada kalian semua. Teatapi satu yang tak akan pernah hilang dari kita adalah kita satu.....tetangga. Awalnya akau ingin bilang kita satu.....satu hubungan yang diikat oleh tali persahabatan. Tetapi sekarang aku tidak lagi yakin, bagaimana aku bisa yakin kalau bahkan terkadang salah satu diantara kita berusaha untuk menalihkan pandang kita dari yang lain saat sesuatu mempertemukan kita. Bahkan hal terbaik yang ku dapat hanya sebuah senyuman kecil. Sebuah senyuman kecil yang pernah menyimpan memori tahunan yang lalu. Masih ingatkan bahwa kita akan selalu melakukan perjalanan liburan pada setiap masa liburan kita? Sahabatku, percayalah kau mungkin rela melupakanya, tetapi aku akan terus menyimpanya. Karena kalianlah yang telah menjadikan aku seperti saat ini. Kalian bagian dari hidupnya Mae.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar